Tampilkan postingan dengan label silat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label silat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Januari 2020

Haru Biru, Suasana Pemakaman Siswa PSHT Sragen Yang Tewas Terkena Tendangan Perut dari Pelatih. Ratusan Warga Padati Makam, Pengurus Cabang Hingga Ranting Beri Santunan  

Ratusan warga PSHT dan warga setempat memadati pemakaman MA (13) siswa PSHT yang tewas terkena tendangan pelatih saat latihan di Gemolong. Foto/Wardoyo
Ratusan warga PSHT dan warga setempat memadati pemakaman MA (13) siswa PSHT yang tewas terkena tendangan pelatih saat latihan di Gemolong. Foto/Wardoyo
SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM– Suasana haru mengiringi pemakaman MA (13) siswa perguruan silat persaudaraan setia hati terate (PSHT) asal Saren, Kalijambe, Sragen, Senin (25/11/2019) siang di pemakaman umum desa setempat.
Ratusan warga PSHT berikut pengurus teras di Cabang PSHT hingga ranting, turut mengantar jenasah bocah itu.
Hujan tangis pun mengiringi kepergian bocah siswa kelas 1 MTS yang tewas saat latihan PSHT di wilayah Kaloran, Gemolong, Minggu (24/11/2019) malam tersebut.
“Korban sudah dimakamkan kemarin siang pukul 14.00 WIB. Di pemakaman umum desa setempat,” papar Kapolres Sragen AKBP Yimmy Kurniawan melalui Kapolsek Kalijambe, Iptu Aji Wiyono, Selasa (26/11/2019).
Pemakaman MA dihadiri sejumlah pengurus cabang hingga ranting PSHT. Termasuk rekan-rekan siswa baru yang latihan bersama MA saat kejadian.
Suasana haru dan isak tangis mengiringi pemberangkatan jenasah bocah cilik itu menuju pemakaman.
Ratusan warga PSHT dan warga setempat bahkan turut mengantar sampai pemakaman. Aura duka begitu menyelimuti suasana pemakaman siang itu.
Pemakaman sendiri sempat tertunda lantaran jenasah MA harus diotopsi terlebih dahu di Solo.
Ketua Cabang PSHT Sragen Pusat Madiun, Jumbadi mengatakan pihaknya bersama jajaran pengurus cabang dan ranting serta pelatih di Gemolong, juga turut hadir di rumah duka untuk mengucapkan belasungkawa.
“Kami datang ke rumah duka sekitar pukul 11.00 WIB,” tuturnya.
Dirinya dan jajaran pengurus cabang tiba di kediaman korban saat jenasah masih menunggu proses otopsi di RSUD Moewardi Solo.
Jumbadi menguraikan selain ucapan belasungkawa, pihaknya juga menyampaikan santunan dari pengurus cabang, ranting dan kelompok ranting serta anggota yang latihan.
“Ya sekadar untuk ungkapan duka cita. Kami juga menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya,” urai Jumbadi.
Seperti diberitakan, siswa kelas satu MTS itu ditemukan meregang nyawa saat mengikuti latihan rutin perguruan silat persaudaraan setia hati terate (PSHT).
Insiden tragis itu terjadi tadi malam, Minggu (24/11/2019) pukul 23.00 WIB. Siswa mungil itu meninggal diduga mendapat latihan fisik dan tendangan dari seniornya.
Data yang dihimpun di lapangan, insiden itu terjadi saat korban mengikuti latihan di wilayah Dukuh Ngrendeng RT 22, Desa Kaloran, Kecamatan Gemolong, Sragen.
Menurut sejumlah saksi, malam itu korban mengikuti latihan bersama sekitar 20 peserta PSHT pemula lainnya.
Korban mengikuti latihan mulai pukul 20.00 WIB. Semula, latihan berjalan biasa saja.
Saat korban mengikuti latihan dan sedang posisi kuda-kuda kemudian diberikan tendangan A atau dengan ujung kaki oleh seniornya, FAS (16) asal Donoyudan, Kalijambe satu kali ke arah perut, korban langsung terjengkang dan jatuh ke belakang.
Seketika itu, korban langsung kejang-kejang. Situasi latihan langsung geger. Seketika, FAS langsung berusaha menolong korban dengan cara diurut perutnya.
Namun korban tidak sembuh kemudian korban dibawa oleh beberapa senior lainnya ke bidan di wilayah Saren.
Namun kondisi korban tetap tak sadarkan diri.
Korban kemudian dirujuk ke RS Yakssi Gemolong namun sesampai di RS Yakssi korban dinyatakan sudah meninggal dunia. Wardoyo


Pencak Silat Tak Hanya untuk Bela Diri, tapi juga Membentuk KarakterIlustrasi Pencak Silat

Liputan6.com, Jakarta Pencak silat, sebagai salah satu seni bela diri, merupakan tradisi khas Indonesia yang telah ada dari generasi ke generasi. Tradisi pencak silat berkembang ke seluruh wilayah Indonesia dengan masing-masing keunikan gerakan dan musik yang mengiringinya.
Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) telah memasukkan tradisi pencak silat yang menjadi usulan Indonesia ke dalam Daftar Perwakilan dari Warisan Budaya Tak Benda Kemanusiaan.
Tradisi pencak silat memiliki seluruh elemen yang membentuk warisan budaya tak benda. Tradisi pencak silat terdiri dari tradisi lisan, seni pertunjukan, ritual dan festival, kerajinan tradisional, pengetahuan dan praktik sosial serta kearifan lokal.
“Saya ucapkan terima kasih kepada UNESCO sudah memberikan kepercayaan kepada silat dan tim. Kita yang menjaga harus konsisten melaksanakan kegiatan yang berbasis kepada silat,” ucap Yahya Andi Saputra, Ketua Penelitian dan Pengembangan Lembaga Kebudayaan Betawi, pada Nyaba Kampus di FKIP Uhamka Pasar Rebo, Minggu, 22 Desember 2019.Pencak silat pada dasarnya merupakan suatu sarana untuk saling mengikat tali silaturahmi antara masyarakat di daerah tertentu yang terbagi menjadi dua fungsi. Yakni, sebagai menghibur diri pada perayaan upacara adat setempat dan untuk membekali diri apabila ada bahaya yang akan mengancam.
Tidak hanya sekadar kekuatan pukul atau jalan jurus, pencak silat dapat membentuk karakter seseorang. Dengan pencak silat, masyarakat juga bisa saling bersilaturahmi satu sama lain. perkembangan silat itu sendiri terbagi menjadi dua bagian, yaitu, pencak silat yang berfungsi sebagai hibur diri dan pencak silat sebagai bela diri.
 “Selain bersilaturahmi melalui silat, silat juga mengajarkan hormat kepada orang tua, guru, mendisiplinkan diri, sangat nasionalis dalam membela negara,” ucap Yahya Andi Saputra menjelaskan.
Setiap gerakan silat memiliki makna tersendiri. Yahya Andi memberikan salah satu contohnya adalah jurus silat beksi yang terdiri dari 17 pukulan yang dimaksudkan 17 rakaat.
“Seperti salat yang memadukan gerakan dan doa yang menjadi sebuah kesatuan, sama halnya dengan silat,” tutur Yahya yang pernah menulis buku soal beksi. 
Masyarakat Indonesia kini mendapat tugas besar untuk melestarikan tradisi pencak silat. Banyak hal yang perlu dilakukan untuk melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkan tradisi pencak silat bagi kepentingan pendidikan, penguatan jati diri, dan memperkuat eksistensi Indonesia di dunia internasional.

Nadiyah Fitriyah / PNJ


Senin, 30 Desember 2019

PSHT

Persaudaraan Setia Hati Terate

Loncat ke navigasiLoncat ke pencarian
Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT)
Logo-psht.jpg
Logo PSHT
SingkatanPSHT
SloganMemayu Hayuning Bawana (memperindah keindahan dunia)
Tanggal pembentukan1948 saat kongres pertama di Pilangbango, Madiun
JenisPerguruan Pencak Silat
Kantor pusatJl. Merak No.10, Nambangan Kidul, Kec. Manguharjo, Kota Madiun, Jawa Timur 63128
Wilayah layanan
Indonesia, Malaysia, Belanda, Rusia (Moskow), Timor Leste, Hongkong, Korea Selatan, Jepang, Belgia dan Prancis.
Ketua Majelis Luhur
Ir. R.B. Wiyono
Ketua Pengurus Pusat
Dr. Ir. Muhammad Taufiq, S.H, M.Sc.
Ketua Dewan Harkat dan Martabat
H. Adi Prayitno, S.Pd.
Tokoh penting
Ki Hadjar Hardjo Oetomo
Mr. Irsjad
Mas Imam Koessoepangat
Mas Tarmadji Boedi Harsono
Situs webpsht.or.id
Persaudaraan Setia Hati Terate (dikenal luas sebagai PSHT atau SH Terate) adalah organisasi olahraga yang diinisiasi oleh Ki Hadjar Hardjo Oetomo dan disepakati namanya menjadi Persaudaraan Setia Hati Terate pada kongres pertamanya di Madiun pada 1948.
PSHT merupakan organisasi pencak silat yang tergabung ke dalam Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI)[1] Saat ini PSHT diikuti sekitar 7 juta anggota, memiliki cabang di 236 kabupaten/kota di Indonesia, 10 komisariat di perguruan tinggi dan 10 komisariat luar negeri di Malaysia, Belanda, Rusia (Moskow), Timor Leste, Hongkong, Korea Selatan, Jepang, Belgia dan Prancis.[2]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Awal mula Setia Hati[sunting | sunting sumber]


Ki Hadjar Hardjo Oetomo, pendiri Persaudaraan Setia Hati Terate
Pada tahun 1903, Ki Ageng Ngabehi Soerodiwirjo (EBI : Ki Ageng Surodiwiryo) meletakkan dasar gaya pencak silat Setia Hati di Kampung Tambak Gringsing, Surabaya (kawasan dekat Tanjung Perak). Sebelumnya, gaya silat ini ia namai djojo gendilo tjiptomuljo dengan sistem persaudaraan yang dinamai sedulur tunggal ketjer. Pada tahun 1917, ia pindah ke Madiun dan mendirikan Persaudaraan Setia Hati di Winongo, Madiun.[3]

Awal mula PSHT[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1922, Ki Hadjar Hardjo Oetomo (EBI : Ki Hajar Harjo Utomo) salah satu pengikut aliran pencak silat Setia Hati yang berasal dari Pilangbango[4], meminta izin kepada Ki Ageng Ngabehi Soerodiwirjo untuk mendirikan pusat pendidikan pencak silat dengan aliran Setia Hati. Niat ini dilatarbelakangi keadaan saat itu dimana ilmu pencak silat hanya diajarkan kepada mereka yang memiliki status bangsawan seperti bupati, wedana atau masyarkat bangsawan yang memiliki gelar raden, sehingga Ki Hardjo Oetomo berniat agar ilmu pencak silat ini bisa dipelajari oleh rakyat jelata dan pejuang perintis kemerdekaan.[4] Ki Ageng Ngabehi Soerodiwirjo setuju atas ide ini asalkan pusat pendidikan nanti harus memiliki nama yang berbeda. Akhirnya didirikanlah SH PSC (Persaudaraan Setia Hati "Pemuda Sport Club"). Pengikut Ki Ageng Ngabehi Soerodiwirjo yang lain yang telah terhasut[5] beberapa pihak mengganggap pembukaan SH PSC sebagai sebuah pengkhianatan sehingga SH PSC dianggap "SH murtad".[3] Kelak, pihak-pihak yang mendukung pemurnian aliran Setia Hati dan mengklaim sebagai penerus sah ajaran Ki Ageng Ngabehi Soerodiwirjo ini tergabung dalam PSHW-TM (SH Winongo).[5][6] Selain itu, adanya tempat latihan ini dianggap oleh Pemerintah Kolonial Belanda sebagai sarana untuk melawan pemerintah kolonial sehingga Ki Hardjo Oetomo ditangkap dan menjalani hukuman pembuangan Belanda di Jember, Cipinang dan Padangpanjang.[4] Sistem yang dianut SH PSC ini adalah sistem paguron (perguruan) dimana guru ditempatkan pada tingkat tertinggi sebagai patron perguruan. Sistem pendidikan inilah yang menjadi cikal bakal Persaudaraan Setia Hati Terate.[3]
Pada tahun 1942, salah seorang murid Ki Hadjar Hardjo Oetomo yang bernama Soeratno Sorengpati mengganti nama SH PSC menjadi Setia Hati Terate. Perubahan ini lalu disepakati saat kongres pertama yang diadakan di rumah Ki Hadjar Hardjo Oetomo di Madiun pada tahun 1948.[4] PSHT lalu mengubah diri dari sistem yang berbentuk perguruan menjadi sistem berbentuk persaudaraan untuk mendukung konsep demokratisasi organisasi, namun konsepsi dan tradisi sistem perguruan masih tetap dilanjutkan[7]. Selanjutnya PSHT semakin berkembang, setelah Mas Irsjad (salah satu murid Ki Hadjar Hardjo Oetomo) menjadi ketua dan memperkenalkan 90 senam dasar, jurus 1-4, jurus belati dan jurus toya.[3] Jurus-jurus perguruan juga diperbarui oleh Mas Imam Koessoepangat untuk membedakan diri dari jurus-jurus djojo gendilo tjiptomuljo milik SH Winongo atau sekarang di kenal dengan Setia Hati Panti

Ketua dari masa ke masa[sunting | sunting sumber]

Pucuk kepemimpinan di PSHT berganti-ganti seiring waktu. Setelah wafatnya Ki Hadjar Hardjo Oetomo pada 12 April 1952, ketua dijabat oleh Soetomo Mangkoedjojo (EBI : Sutomo Mangkujoyo), yang merupakan karyawan BRI. Setelah Sutomo dipindah tugaskan ke Surabaya, ketua dijabat oleh Mas Irsjad. Pada dekade 1960-an, Mas Irsjad pindah ke Bandung dan kepemimpinan PSHT diserahkan kepada Mas Santoso Kartoatmodjo. Setelah itu terjadi pergolakan tahun 1965 sehingga ketua kembali dijabat oleh Soetomo Mangkoedjojo hingga 1974. Pada masa jabatan kedua ini PSHT membuka beberapa cabang di Magetan, Surabaya, Mojokerto, Yogyakarta, dan Solo. Pada tahun 1974, diadakan kongres di Madiun yang memutuskan Mas Imam Koessoepangat (dikenal dengan julukan Pandhita Wesi Kuning[8][9]) sebagai ketua pusat. 3 tahun berikutnya, diadakan kongres kembali dan menghasilkan nama Badini sebagai ketua selanjutnya. Pada masa ini organisasi mengalami masalah keuangan sehingga salah satu pendekarnya yang bernama Tarmidji Boedi Harsono keluar dengan solusi kontroversial, yakni mengubah sistem pembayaran pengesahan warga dari menggunakan uang logam lama (ketengan atau benggolan) menjadi uang logam yang berlaku (baik rupiah maupun yang lainnya seperti dolar, ringgit atau riyal) agar dapat membantu keuangan organisasi. Sebelumnya uang ketengan dan benggolan didapat dengan cara membeli dari istri Ki Hardjo Oetomo, Inem, sekaligus sebagai bentuk terima kasih organisasi untuk membantu keluarga Ki Hardjo Oetomo. Maka Tarmidji meyakinkan pada semua pihak yang mempertanyakan usul tersebut karena PSHT sudah berubah menjadi organisasi modern yang menjadi milik anggota bukan perorangan lagi dan untuk membantu keluarga Ki Hardjo Oetomo sudah dipersiapkan solusi lain. Pada tahun 1981, Tarmidji Boedi Harsono diangkat sebagai ketua. Pada tahun 2000, kongres diadakan kembali dengan menjadikan kembali Tarmidji Boedi Harsono sebagai ketua dan dilengkapi dengan 9 tokoh lainnya sebagai dewan pusat atau yang dikenal sebagai Nawa Pandhita.[7][3] Saat ini ketua pusat PSHT dijabat oleh Muhammad Taufiq.[10]

Pendidikan[sunting | sunting sumber]


Padepokan PSHT di Nambangan Kidul, Madiun
Pendidikan pencak silat di PSHT memiliki inti unsur pembelaan diri untuk mempertahankan kehormatan, keselamatan, kebahagiaan, dan kebenaran. Materi yang diajarkan terbagi untuk 3 kelompok, yaitu kelompok pencak silat ajaran (pemula) yang terdiri dari, senam massal, senam dasar, jurus, senam dan jurus toya, jurus belati, krippen, dan silat seni untuk tunggal, ganda dan berregu. Kelompok kedua adalah kelompok pencak silat prestasi untuk mengikuti kejuaraan atau event olahraga yang melibatkan pencak silat dengan materi tanding serta dan silat seni baik tunggal, ganda, maupun beregu. Dan yang terakhir adalah kelompok Pencak Silat Bela Diri Praktis yang diberi materi bela diri profesional, pertunjukan dan keterampilan khusus.[11]
Selain itu PSHT juga mengajarkan beberapa ajaran seperti Ajaran Setia Hati, dimana warga akan belajar mengenai upaya mendekatkan hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia serta hubungan manusia dengan alam semesta. Ajaran Setia Hati mengharuskan warganya mampu memahami dirinya sendiri dan hati nuraninya, bahwa manusia dapat dihancurkan, manusia dapat dimatikan (dibunuh) tetapi manusia tidak dapat dikalahkan selama manusia itu setia pada hatinya sendiri dan tidak ada kekuatan apapun di atas manusia yang bisa mengalahkan manusia kecuali kecuali kekuatan Tuhan Yang Maha Esa.[12] Ajaran selanjutnya adalah Ajaran dan Gerakan Budi Luhur dimana warga PSHT harus ikut berupaya mewujudkan memayu hayuning bawana (Bahasa Indonesia : memperindah keindahan dunia) dalam upaya mewujudkan masyarakat nyaman, adil, makmur, dan sejahtera lahir batin.[11]

Falsafah ajaran[sunting | sunting sumber]


PSHT Komisariat Belanda
PSHT memiliki falsafah ajaran yang diambil dari ajaran luhur Jawa[13] :
  1. Sepira Gedhening Sengsara Yen Tinampa Amung Dadi Coba, yang berarti "seberapapun besarnya kesengsaraan jika mampu menerimanya hanya akan jadi cobaan semata".
  2. Ala Tanpa Rupa Yen Tumandhang Amung Sedhela, yang berarti "setiap rasa kesusahan, keburukan, serta masalah-masalah apabila dijalani dengan berlapang dada maka kemudian terasa sebentar saja".
  3. Tega Larane, Ora Tego Patine, yang secara harfiah berarti "Tega melihat sakitnya, tidak tega melihat matinya". Yang mana maksudnya adalah warga PSHT berani menyakiti seseorang dalam rangka memperbaiki bukan merusak (membunuh).
  4. Suro Diro Joyo Diningrat Lebur Dening Pangastuti, yang berarti "segala kesempurnaan hidup dapat diluluhkan dengan budi pekerti luhur".
  5. Satria Ingkang Pilih Tanding yang secara harfiah berarti "Seorang ksatria mampu memilih lawan". Maksudnya seseorang berjiwa ksatria hanya mau melawan orang yang mampu menghadapinya, bukan orang yang lemah daripadanya".
  6. Ngluruk Tanpo Bolo, Menang Tanpo Ngasorake, Sekti Tanpa Aji-Aji, Sugih Tanpa Bandha, yang berarti "mendatangi tanpa kawan, menang tanpa mengalahkan, sakti tanpa kesaktian dan kaya tanpa kekayaan".
  7. Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan, yang artinya "jangan sakit hati kala musibah menimpa, jangan susah kala kehilangan".
  8. Ojo Seneng Gawe Susahe Liyan, Opo Alane Gawe Seneng Liyan, yang artinya "jangan suka menyusahkan orang lain, apa jeleknya membahagiakan orang lain".
  9. Ojo Waton Ngomong Ning Yen Ngomong Sing Gawe Waton, yang artinya "jangan hanya bisa bicara namun harus bisa membuktikan".
  10. Ojo Rumongso Biso Ning Sing Biso Rumungso, yang artinya "jangan merasa bisa, namun juga harus bisa merasakan".
  11. Ngunduh Wohing Pakarthi, yang artinya "siapa yang berbuat pasti akan menerima hasil perbuatannya".
  12. Jer Basuki Mawa Beya, yang artinya "segala kesuksesan membutuhkan pengorbanan".
  13. Budhi Dayane Manungso Tan Keno Ngluwihi Kodrate Sing Maha Kuwoso yang berarti "segala daya upaya manusia tidak akan bisa melebihi ketentuan Tuhan Yang Maha Kuasa".
  14. Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara yang secara harfiah berarti "memperindah keindahan dunia serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak pada diri".
  15. Sepiro duwurmu ngudi kawruh, sepiro jeromu ngangsu ngilmu, sepiro akehe guru ngajimu tembe mburine mung arep ketemu marang sejatine awake dewe, yang berarti "seberapa tinggimu mencari pengetahuan, seberapa dalammu menuntut ilmu, seberapa banyak guru yang mengajarmu, tetap bergantung pada dirimu sendiri".
  16. Sopo sing wus biso nemoake sedulur batine kakang kawah adi ari-ari papat kiblat lima pancer, sejatine wus nemu guru sejatine.
  17. Sekti tanpo aji digdoyo tanpo guru, yang berarti "sakti tanpa kesaktian, hebat tanpa guru".
  18. Kridhaning ati ora bisa mbedhah kuthaning pesthi, yang berarti "gejolak jiwa (seharusnya) tidak mengubah kepastian".
  19. Amemangun karyenak tyasing sesama, yang berarti "membuat nyaman perasaan orang lain".
  20. Sukeng tyas yen den hita, yang berarti "suka/bersedia menerima nasihat".
  21. Aja Adigang, Adigung, Adiguna, yang berarti "jangan sok kuasa, sok besar dan sok sakti".
  22. Aja Milik Barang Kang Melok, Aja Mangro Mundak Kendo, yang berarti "jangan tergoda kemewahan, jangan mudah mendua agar semangat tidak kendur"
  23. Sing Resik Uripe Bakal Mulya, yang berarti "yang bersih hidupnya akan mulia".
  24. Aja Kuminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mundak Cilaka, Sing Was-was Tiwas, yang berarti "jangan sok pintar karena akan salah arah, jangan suka berbuat curang karena akan celaka, yang ragu-ragu akan binasa".
  25. Aja Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman, yang berarti "jangan terobsesi kedudukan, keduniawian dan kepuasan".
  26. Aja Gumunan, Aja Getunan, Aja Kagetan, Aja Aleman, yang berarti "jangan mudah heran, jangaan mudah kecewa, jangan mudah kaget, jangan manja".
  27. Sepi ing Pamrih Rame ing Gawe, Banter tan Mbancangi, Dhuwur tan Ngungkuli, yang berarti "bekerja dengan giat tanpa pamrih, cepat tanpa mendahului dan tinggi tanpa menandingi".
  28. Urip Iku Urup, yang secara harfiah artinya "hidup itu menghidupi". Maksudnya dalam hidup harus bisa menjadi manfaat bagi orang lain.
  29. Sak Apik-apike Wong Yen Aweh Pitulung Kanthi Cara Dedhemitan, yang berarti "sebaik-baiknya orang adalah memberi pertolongan dengan tanpa ingin diketahui orang lain".

Tingkatan[sunting | sunting sumber]


Sabuk PSHT, dari kiri mori, sabuk putih, sabuk ijo, sabuk jambon dan sabuk polos

Warga PSHT tingkat I memakai sabuk mori

Siswa[sunting | sunting sumber]

Siswa Polos[sunting | sunting sumber]

Siswa polos atau siswa hitam adalah tingkatan awal pada PSHT, yang ditandai dengan sabuk berwarna hitam. Warna hitam melambangkan kebutaan karena siswa belum mengetahui dengan baik apa itu PSHT.[14] Pada tingkatan ini siswa diajarkan pengenalan tentang Setia Hati dan Setia Hati Terate, pengenalan gerak, gerakan, beberapa senam dan jurus. Gerak dan gerakan yang diajarkan termasuk senamuntuk tangan dan kaki. Sedangkan jurus yang diajarkan pada tingkatan ini adalah 1 hingga 2 pukulan, tendangan dan pertahanan, 30 senam dan 5 sampai 6 jurus.[15]

Siswa Jambon[sunting | sunting sumber]

Siswa Polos yang lulus ujian kenaikan tingkat akan menjadi Siswa Jambon yang ditandai sabuk berwarna merah jambu (merah muda). Warna merah muda melambangkan keragu-raguan. Jambon juga berarti sifat matahari yang terbit atau sifat matahari yang terbenam, yaitu sifat yang mulai mengarah ke suatu kepastian tetapi masih belum sempurna.[14] Pada tingkatan ini siswa diajarkan pemahaman dan pengamalan Ajaran Setia Hati. Dan penambahan kemampuan gerak dan gerakan menjadi 3 hingga 4 pukulan, tendangan dan pertahanan, 45 senam dan 13 jurus.[15]

Siswa Ijo[sunting | sunting sumber]

Siswa Jambon yang lulus ujian kenaikan tingkat akan menjadi Siswa Ijo yang ditandai sabuk berwarna hijau. Warna hijau melambangkan keadilan dan keteguhan dalam menjalani sesuatu.[14] Pada tingkatan ini siswa diajarkan penambahan kemampuan gerak dan gerakan menjadi 5 hingga 6 pukulan, tendangan dan pertahanan, 60 senam dan 15 hingga 20 jurus.[15]

Siswa Putih[sunting | sunting sumber]

Sesuai namanya, Siswa Putih menggunakan sabuk berwarna putih. Dalam tingkatan ini semua pukulan, tendangan, teknik pertahanan, senam dan jurus sudah diajarkan kecuali jurus ke-36.[15] Warna putih melambangkan kesucian[14] sehingga siswa dalam tingkatan ini diharapkan telah mengerti arah yang sebenarnya dan telah mengetahui perbedaan antara benar dan salah, bertindak berdasarkan prinsip kebenaran, dan bersikap tenang. Siswa pada tingkatan ini sudah siap untuk menjalani pengesahan sebagai pendekar/warga PSHT.[15]

Warga[sunting | sunting sumber]

Warga atau Pendekar PSHT adalah mereka yang sudah menjalani ujian dan pengesahan. Warga PSHT dibagi menjadi 3 tingkat, yaitu Warga tingkat I (satria), tingkat II (ngalindra) dan tingkat III (pandhita).[16] Warga tingkat I menggunakan sabuk berwarna putih dari kain mori. Warga tingkat dua dan tiga menggunakan selendang.[15]

Tokoh[sunting | sunting sumber]