Rabu, 18 Agustus 2021

Enterprise adalah gambaran bisnis pada suatu organisasi dalam bentuk yang kompleks, gambaran ini memiliki jangkauan yang sangat luas meliputi manusia (pelanggan, staff dan kontraktor), proses dan asset yang digunakan untuk mengembangkan dan menghasilkan produk-produk dan service-service, data dan informasi yang disimpan untuk digunakan dalam bisnis, dan mekanisme untuk menyediakan komunikasi dan sekuriti.[3]

Sedangkan Arsitektur Enterprise selanjutnya disebut EA (Enterprise Architecture), adalah sebuah gambaran atau blueprint untuk mengorganisasi semua proses bisnis enterprise, informasi yang dibutuhkan dan teknologi-teknolgi pendukung. Dalam EA terdiri dari defenisi keadaan sekarang (As-Is), Visi status masa depan (“To-Be”) tentang bisnis seperti halnya teknologi, dan cara lain untuk mengatur kompleksitas.[3]

Seperti yang terlihat pada Gambar 1 dibawah ini Terdapat 4 lapisan dalam EA[3]. Pada lapisan pertama adalah lapisan bisnis yang meliputi pengetahuan dan defenisi mengenai bisnis serta termasuk perhatian terhadap penjaminan/keamanan.

Lapisan Kedua adalah lapisan data, pada lapisan ini mendefenisikan data yang penting untuk mendukung bisnis meliputi model-model objek dan data, struktur, defenisi-definisi mengenai data dan aliran informasi termasuk pada layer ini dokumentasi data yang sensitif/krusial dan keamananya.

Lapisan ketiga adalah lapisan aplikasi, pada lapisan ini mendefenisikan aplikasi-aplikasi yang menunjang bisnis meliputi deskripsi fungsi dari aplikasi, defenisi dari perancangan aplikasi, interface dan kemampuan untuk dapat diakses termasuk dengan keamanan/jaminan.

Lapisan keempat adalah lapisan teknologi, pada lapisan ini mendefenisikan teknologi-teknologi yang menunjang bisnis meliputi lokasi-lokasi bisnis, perangkat keras dan perangkat lunak, jaringan dan keamanan teknologi

Gambar 1 Lapisan-lapisan Enterprise Arsitektur

 

Terdapat berbagai macam definisi dari EAP di beberapa tulisan dan jurnal ilmiah, hal ini disebabkan karena luas dan kompleksnya cakupan yang harus dijangkau. Namun pada tulisan ini kita akan membatasi dengan mengacu pada pendefinisian yang diberikan oleh Steven H. Spewak.

EAP adalah proses mendefenisikan
arsitektur-arsitektur untuk penggunaan informasi dalam menunjang bisnis dan rencana mengimplementasikan arsitektur tersebut.[1]

Terdapat 3 kata penting pada defenisi diatas. Pertama adalah kata arsitektur memberikan makna blueprint, gambar atau model dimana terdiri dari 3 arsitektur yaitu arsitektur data, arsitektur aplikasi dan arsitektur teknologi. Khususnya dalam EAP arsitektur mendefenisikan dan menggambarkan data, aplikasi dan teknologi yang diperlukan untuk mensupport bisnis.[1]

Kedua adalah kata mendefenisikan. EAP mendefenisikan bisnis dan mendefenisikan arsitektur. EAP adalah proses mendefenisi bukan mendisain, sehingga EAP tidak mendisain system, database atau jaringan. Desain dan pekerjaan implementasi diprakarsai setelah proses pendefenisian EAP telah rampung.[1]

Ketiga adalah kata rencana. Umumnya arsitektur mendefenisikan apa (what) yang diperlukan dan rencana pendukung mendefenisikan kapan (when) arsitektur tersebut diimplemetasikan. Sebenarnya arsitektur sendiri dapat menyediakan defenisi-defenisi, standard-standard dan ide-ide yang berguna, tetapi aksitektur tanpa rencana tidak akan mencapai sampai tahap implementasi.[1]

Komponen-komponen Metodologi EAP

Steven H. Spewak membagi metodologi EAP dalam 7 komponen dimana komponen-komponen tersebut dikelompokan berdasarkan lapisan-lapisan logis yang berbentuk kue pengantin. Seperti terlihat pada Gambar 2. dibawah ini, komponen tersebut dikelompokkan dalam 4 lapisan, dimana setiap lapisan mempresentasikan sebuah fokus tugas yang berbeda.[1]

Gambar 2 Lapisan dan Komponen-komponen EAP[1]

 Lapisan 1 – Getting started

Pada lapisan ini mendorong kearah pembentukan sebuah rencana kerja EAP dan penekanan pada perlunya komitmen manajemen tingkat atas untuk mendukung dan memberi sumber daya pada 6 komponen/langkah-langkah berikutnya. Lapisan ini hanya mencakup 1 komponen yaitu:

Inisialisasi Perencanaan mencakup hal-hal yang bersifat umum, keputusan terhadap metodologi yang mana yang akan digunakan, siapa yang akan terlibat, dukungan apa yang diperlukan dan alat bantu apa yang akan digunakan.[2]

Lapisan 2 – Where we are today

Lapisan ini menyediakan sebuah garis dasar/titik pangkal untuk mendefenisikan bentuk Architecture masa depan (to be) dan rencana migrasi jangka panjang. Lapisan ini mencakup 2 komponen yaitu:

Pemodelan Bisnis mencakup himpunan/kumpulan sebuah pengetahuan dasar tentang fungsi-fungsi bisnis dan informasi yang digunakan dalam melakukan dan mendukung bermacam-macam proses bisnis.

System dan teknologi saat ini mencakup defenisi dari sistem aplikasi dan platform teknologi pendukung yang ada pada saat ini. Pada bagian ini merupakan level kesimpulan inventori dari sistem aplikasi, data dan platfrom teknologi yang menyediakan sebuah garis dasar/titik pangkal untuk rencana migrasi jangka panjang. [2]

 Lapisan 3 – the vision of where we want to be

Arah garis panah pada lapisan ini mengandung arti bahwa arsitektur data didefenisikan pertama kali, kedua arsitektur aplikasi, dan terakhir arsitektur teknologi. Pada metode sistem tradisional biasanya melakukan sebaliknya. Lapisan ini mencakup 3 komponen yaitu:

Arsitektur Data – mendefenisikan jenis-jenis data utama yang dibutuhkan untuk membantu bisnis.

Arsitektur Aplikasi – mendefenisikan jenis-jenis aplikasi utama yang dibutuhkan untuk membantu bisnis.

Arsitektur Teknologi – mendefenisikan platfrom teknologi yang dibutuhkan untuk mengatur data dan membantu fungsi-fungsi bisnis. [2]

EAP menggambarkan cetakbiru untuk implementasi dan disain dan menempatkan langkah-langkah perencanaan atau pendefinisian ke dalam framework.

 Model Implementasi

Akan lebih optimal jika keseluruhan model enterprisewide, horisontal dan vertikal disatukan dlam satu model implementasi. Model ini diambil dari model Federal Enterprise Architecture Framework (FEAF) (lihat Gambar 3) yang akan menjadi standar acuan dalam mengimplematasi EAP dan zachman framework. Model ini akan menjadi jawaban untuk menghadapi dunia kompetisi global saat ini, dimana terdiri dari 8 komponen yang penjelasannya sebagai berikut:

  • Architecture Drivers – Agent yang menginisilisasi perubahan untuk membentuk EAP, terdapat 2 pendorong arsitektur yaitu:

    Pendorong Bisinis – mendefenisikan ulang inti bisnis EA.

    Pendorong Desain – menampilkan cara revolusiener untuk mempertemukan kebutuhan bisnis pihak manajemen.

  • Current Architecture – keadaan arsitektur sekarang atau garisdasar pada enterprise. Terdiri 2 bagian dari arsitetur sekarang yaitu

    Current Business Architecture – mendefenisikan kebutuhan
    bisnis
    sekarang yang sedang dihadapi oleh desain saat in

    Current Desain Architecture – mendefenisikan implemetasi desain saat ini atau “as built” data, aplikasi dan teknologi yang digunakan untuk mendukung kebutuhan bisnis saat ini.

  • Target Architecture – keadaan arsitektur masa depan yang diinginkan untuk enterpraise. Terdiri 2 bagian dari arsitetur tujuan yaitu

    Target Bisnis Architecture – mendefenisikan kebutuhan
    bisnis
    tujuan pada enterprise untuk ditujukan melalui disain masa depan. What are the new or altered processes

    required by the business?

    Target Desain Architecture – mendefenisikan masa depan data, aplikasi dan teknolgi yang digunakan untuk mendukung kebutuhan bisnis ke depan. What are the new or “to-be-built” data structures, applications, or supporting technology required to meet the above functionality or future support needs? 

  • Architectural Models – Bisnis dan arsitektur disain. Seperti kebanyakan arsitektur informasi formal, model adalah basis untuk memanage dan menerapkan perubahan di dalam EA. Model tersebut merupakan artifacts yang menggambarkan, menggunakan notasi yang sesuai, spesifikasi yang detil dari aplikasi dan teknologi yang akan dirancang, diinstall dan dibeli atau yang diterapkan.

    Business Models – Model kemunculan kebutuhan bisnis yang didorong oleh Business Driver. Pemodelan melibatkan sejumlah definisi umum, diagram, dan kadang-kadang alat otomatis yang memudahkan pemahaman fungsi bisnis, masukan informasi, proses, dan produk.

    Design Models – Model data, aplikasi, dan teknologi yang diperlukan untuk mendukung

    kebutuhan bisnis. Pemodelan dapat meliputi diagram, spesifikasi, dan gambar teknis

    untuk membantu pemahaman struktur data, aplikasi, dan teknologi pendukung.

    Gambar 3 model Federal Enterprise Architecture Framework (FEAF)

  • Architectural Segments – terdiri dari usaha arsitektur dipusatkan, seperti suatu arsitektur sistem administrasi umum atau Area Bisnis (seperti perdagangan), dan menghadirkan suatu enterprise spesifik di dalam keseluruhan Arsitektur Enterprise. Masing-Masing segmen arsitektur terdiri atas arsitektur sekarang dan target, yang dibatasi dalam lingkup fokus segmen.
  • Strategic Direction – Panduan pengembangan arsitektur target. Arah strategik menyertakan visi, suatu statemen yang strategis dan ringkas yang mengambarkan target untuk arsitektur di (dalam) 5 tahun, prinsip untuk memandu perubahan arsitektur, dan tujuan dan sasaran untuk memanage dan menentukan kemajuan ke arah visi.
  • Transitional Processes – Proses itu mendukung migrasi dari arsitektur sekarang kepada arsitektur target. Contoh meliputi yang berikut.
    • Capital IT Investment Planning and Decision Making – Menuhi syarat investasi untuk dianggarkan didasarkan pada biaya proyeksi, ROI, cost benefit, dan ukuran-ukuran lain.
    • Investment Management Review – Menyediakan arsitektur informasi untuk mendukung proses pengambilan keputusan dalam tinjauan ulang investasi.
    • Segment Coordination – mengkoordinir pengintegrasian arsitektur segmen ke dalam Arsitektur Enterprise. Konfigurasi Manajemen Dan merekayasa kontrol proses Perubahan harus pada tempatnya.
    • Market Research – Melakukan/Menyelenggarakan suatu riset pasar berkala untuk meneliti dan mengidentifikasi teknologi baru dan terdepan dengan manfaat potensial ke proses bisnis yang sebelumnya tidak tersedia atau menjadi lebih efficient/cost efektif.
    • Manajemen Asset- Memanage semua aset Infrastruktur.
    • Procurement Practices – sejajarkan aktivitas pengadaan dengan arsitektur dan proses transisi lain.
    • Architecture Governance – Koordinir usaha untuk menghindari kebingungan, gross misunderstanding, dan melakukan pekerjaan berulang.
  • Standards – Semua Standar baik itu petunjuk, dan best practices. Standard merupakan jaminan kualitas. Komponen ini meliputi konfigurasi pilihan untuk menerapkan standard, diantaranya :.
    • Standard Keamanan- ditarapkan ke semua tingkat keamanan.
    • Standard Data- ditarapkan ke semua data, meta data, dan berhubungan struktur.
    • Standard Aplikasi- ditarapkan ke semua perangkat lunak aplikasi.
    • Standard Teknologi- ditarapkan ke semua platform dan sistem operasi.

Penutup

Perencanan Arsitektur enterperise tidak hanya memungkinkan bisnis mencapi sukses, tetapi intinya adalah senjata yang digunakan dalam era informasi yang hyper-competitive. Hal ini disebabkan dalam EAP adanya mekanisme untuk membuat atau membuat ulang aliran yang continue pada nilai pelanggan. Dan IT akan dapat dijadikan manuver jika dan hanya jika Arsitektur Enterprise tealh didefenisikan secara explicit sehingga menyebabkan kemampuan untuk berubah yang bebas dari pergesekan untuk menghadapi perubahan dunia yang semakin global.

Mendefenisikan Model adalah dasar untuk memanage dan menerapkan perubahan di dalam Enterprise pada suatu cara yang tepat waktu. Framework menyediakan suatu struktur logis untuk menggolongkan dan mengorganisir jenis-jenis model enterprise yang penting ke segmen manajemen dan kepada pengembangan yang mendukung sistem.

 

Referensi

  • Spewak, Steven H. with Steven C. Hill. “Enterprise Architecture Planning, Developing a Blueprint for Data, Applications and Technology”. John Wiley & Sons, Inc., 1992.
  • ______________, “Federal Enterprise Architecture Framework“. The Chief Information Officers Council, September 1999
  • Hewlett, Niles E, PMP. “The USDA Enterprise Architecture Program“. Enterprise Architecture Division Office of the Chief Information Officer, 11 April 2005

 

Keuntungan, Fungsi dan Tujuan EA

 Keuntungan, Fungsi dan Tujuan EA

Keuntungan Enterprise Architecture  :

Dapat menangkap fakta tentang misi, fungsi, dan landasan bisnis dalam bentuk yang dipahami untuk mendukung perencanaan dan pengambilan keputusan yang baik.

Dapat memperbaiki komunikasi di antara organisasi TI dan bisnis dalam perusahaan menggunakan kosa kata standar.

Fokus pada penggunaan strategi dari teknologi untuk pengelolaan informasi perusahaan yang baik dan meningkatkan konsistensi, akurasi, tepat waktu, integritas, kualitas, ketersedian, akses, dan berbagi informasi pengelolaan TI di perusahaan.

Mencapai skala ekonomi dengan menyediakan mekanisme berbagi layanan di seluruh bagian perusahaan.

Mempercepat integrasi sistem yang eksis, migrasi, dan yang baru.

Memastikan pemenuhan hukum dan regulasi.

Fungsi dari Enterprise Architecture :

Menjabarkan hubungan / kaitan antara tujuan  organisasi dengan sistem informasi dan  komunikasi.

Mendukung pengambilan keputusan investasi.

Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi  untuk mendukung aktivitas operasi organisasi  sekaligus upaya mengurangi redudansi antara  sistem informasi dan komunikasi, menggunakan  kembali informasi dan komponen software,  pemilihan solusi dan teknologi baru secara  efektif.

Meningkatkan kemampuan integrasi data antar  bagian dalam organisasi :

- Pengembangan standar-standar dalam sistem  informasi dan komunikasi.

- Mengurangi jumlah antarmuka antar aplikasi.

Tujuan dari manajemen Enterprise Architecture :

Strategi dan orientasi Bisnis

Merupakan enabler yang menyediakan model bisnis  yang baru dengan memperhatikan pengaruh Teknologi  Informasi terhadap bisnis.

•Kemampuan beradaptasi dan berkesinambungan

Terhadap perubahan organisasi, berorganisasi, dan  pertumbuhan dalam pasar, bisnis, dan teknologi  yang dinamis, yang berkelanjutan dengan prinsip  dan struktur arsitektur yang terus berlaku.

•Efisiensi dan Efektif

Strategi berbasis arsitektur dengan berorientasi  sukses untuk mengembangkan dan  mengimplementasikan I & C dengan pengaruh yang  kuat dan menjamin pemenuhanan standar.

•Transparansi dan Komunikasi

Melibatkan sejumlah orang dengan komposisi yang  berbeda dari manajemen hingga ke pakar Teknologi  Informasi


Sumber : http://u3lutfia.blogspot.com/2013/08/keuntungan-fungsi-dan-tujuan-ea.html#:~:text=Keuntungan%20Enterprise%20Architecture%20%3A,perusahaan%20menggunakan%20kosa%20kata%20standar.

10 Fase ADM (TOGAF Framework)

10 Fase ADM (TOGAF Framework)

Ada 10 Fase pada TOGAF ADM, seperti berikut ini:

1. Preliminary Phase

Fase ini mencakup aktivitas persiapan untuk menyusun kapabilitas arsitektur termasuk kustomisasi TOGAF dan mendefinisikan prinsip-prinsip arsitektur. Tujuan fase ini  adalah untuk menyakinkan setiap orang yang terlibat di dalamnya bahwa pendekatan ini untuk mensukseskan proses arsitektur. Pada fase ini harus menspesifikasikan who, what,  why, when, dan where dari arsitektur itu sendiri.

What adalah ruang lingkup dari usaha.

Who adalah siapa yang akan memodelkannya, siapa orang yang akan bertanggung jawab untuk mengerjakan arsitektur tersebut, dimana mereka akan dialokasikan dan bagaimana peranan mereka.

How adalah bagaimana mengembangkan arsitekture interprise, menentukan  framework dan metode apa yang akan digunakan untuk menangkap informasi.

When adalah kapan tanggal penyelesaian arsitektur

Why adalah mengapa arsitektur ini dibangun. Hal ini berhubungan dengan tujuan organisasi yaitu bagaimana arsitektur dapat memenuhi tujuan organisasi.

2. Phase A: Architecture Vision

Fase ini merupakan fase inisiasi dari siklus pengembangan arsitektur yang mencakup pendefinisian ruang lingkup, identifikasi stakeholders, penyusunan visi arsitektur, dan pengajuan persetujuan untuk memulai pengembangan arsitektur.

Beberapa tujuan dari fase ini adalah :

Menjamin evolusi dari siklus pengembangan arsitektur mendapat pengakuan dan dukungan dari manajemen enterprise.

Mensyahkan prinsip bisnis, tujuan bisnis dan pergerakan strategis bisnis organisasi.

Mendefinisikan ruang lingkup dan melakukan identifikasi dan memprioritaskan komponen dari arsitektur saat ini.

Mendefiniskan kebutuhan bisnis yang akan dicapai dalam usaha arsitektur ini dan batasannya.

Menghasilkan visi arsitektur yang menunjukan respon terhadap kebutuhan dan batasannya.

Beberapa langkah yang dilakukan pada fase ini adalah :

Menentukan / menetapkan proyek

Mengindentifikasi tujuan dan pergerakan bisnis. Jika hal ini sudah didefinisikan, pastikan definisi ini masih sesuai dan lakukan klarifikasi terhadap bagian yang belum jelas.

Meninjau prinsip arsitektur termasuk prinsip Meninjau ini berdasarkan arsitektur saat ini yang akan dikembangkan. Jika hal ini sudah didefinisikan, pastikan definisi ini masih sesuai  dan lakukan klarifikasi terhadap bagian yang belum jelas.

Mendefinisikan apa yang ada di dalam dan di luar rungan lingkup usaha saat ini.

Mendefinisikan batasan-batasan seperti waktu, jadwal, sumber daya dan sebagainya.

Mengindentifikasikan stakeholder, kebutuhan bisnis dan visi arsitektur.

Mengembangkan Statement of Architecture Work.

3. Phase B: Business Architecture

Fase ini mencakup pengembangan arsitektur bisnis untuk mendukung visi arsitektur yang telah disepakati. Pada tahap ini tools  dan  method  umum untuk pemodelan seperti:  Integration DEFinition (IDEF) dan  Unified Modeling Language  (UML) bisa digunakan untuk membangun model yang diperlukan.

Beberapa tujuan dari fase ini adalah :

Menguraikan deskripsi arsitektur bisnis dasar.

Mengembangkan arsitektur bisnis tujuan, menguraikan strategi produk dan/atau service dan aspek geografis,  informasi, fungsional dan organisasi dari lingkungan bisnis yang berdasarkan  pada prinsip bisnis, tujuan bisnis dan penggerak strategi.

Menganalisi gap antara arsitektur saat ini dan tujuan.

Memilih titik pandang yang relevan yang memungkinkan arsitek mendemokan bagaimana maksud stakeholder dapat dicapai dalam arsitektur bisnis.

Memilih tools dan teknik relevan yang akan digunakan dalam sudut pandang yang dipilih.

Beberapa langkah yang dilakukan di fase ini adalah :

Mengembangkan deskripsi asitektur bisnis saat ini untuk mendukung arsitektur bisnis target.

Mengindentifikasi reference model, sudut pandang dan tools

Melengkapi arsitektur bisnis

Melakukan gap analisis dan membuat laporan

4. Phase C: Information Systems Architectures

Pada tahapan ini lebih menekankan pada aktivitas bagaimana arsitektur sistem informasi dikembangkan. Pendefinisian arsitektur sistem informasi dalam tahapan ini meliputi arsitektur data dan arsitektur aplikasi yang akan digunakan oleh organisasi. Arsitektur data lebih memfokuskan pada bagaimana data digunakan untuk kebutuhan fungsi bisnis, proses dan layanan. Teknik yang bisa digunakan dengan yaitu:  ER-Diagram,  Class Diagram, dan  Object Diagram.

Tujuan dari fase ini adalah mengembangkan arsitektur tujuan dalam domain data dan aplikasi.  Ruang lingkup dari proses bisnis yang didukung dalam fase C dibatasi pada proses-proses yang didukung oleh TI dan  interface  dari proses-proses yang berkaitan dengan non-TI. Implementasi dari arsitektur ini mungkin tidak perlu dalam urutan yang sama, diutamakan terlebih dahulu yang begitu sangat dibutuhkan.

Tujuan dari arsitektur data adalah untuk mendefinisikan  tipe dan sumber utama data yang diperlukan untuk mendukung bisnis dengan cara yaitu dapat dipahami oleh stakeholder, lengkap, kosisten, dan stabil. Penting untuk diketahui bahwa arsitektur ini tidaklah memperhatikan perancangan database. Tujuannya adalah untuk mendefinisikan entitas data yang relevan dengan enterprise, bukanlah untuk merancang sistem penyimpanan fisik dan logik.

Beberapa langakah yang diperlukan untuk membuat arsitektur data adalah:

Mengembangkan deskripsi arsitektur data dasar

Review dan validasi prinsip, reference model, sudut pandang dan tools.

Membuat model arsitektur

Memilih arsitektur data building block

Melengkapi arsitektur data

Melakukan gap analysis arsitektur data saat ini dengan arsitektur data target  dan membuat laporan.

Tujuan dari arsitektur aplikasi adalah untuk mendefinisikan jenis-jenis utama dari sistem aplikasi yang penting untuk memproses data dan mendukung bisnis. Penting untuk diketahui bahwa arsitektur aplikasi ini tidaklah memperhatikan perancangan sistem  aplikasi. Tujuannya adalah untuk mendefinisikan jenis-jenis sistem aplikasi yang relevan dengan  enterprise dan aplikasi apa saja yang diperlukan  untuk mengatur data dan menghadirkan informasi kepada aktor manusia dan komputer di  enterprise. Aplikasi tidak diuraikan sebagai sistem komputer tetapi sebagai grup logik dari kemampuan untuk mengatur objek data dalam arsitektur data dan mendukung fungsi-fungsi bisnis dalam arsitektur bisnis. Aplikasi dan kemampuan didefinisikan tanpa mereferensikan ke teknologi khusus. Suatu aplikasi bersifat stabil dan relatif tidak berubah sepanjang waktu sedangkan teknologi yang digunakan untuk mengimplementasikannya akan barubah sepanjang waktu, berdasarkan pada teknologi yang sekarang tersedia dan perubahan kebutuhan bisnis.

Beberapa langkah yang diperlukan  untuk membuat arsitektur aplikasi adalah :

Mengembangkan deskripsi arsitektur aplikasi dasar

Review dan validasi prinsip, reference model, sudut pandang dan tools.

Membuat model arsitektur

Indentifikasi sistem aplikasi kandidat

Melengkapi arsitektur aplikasi

Mealakukan gap analysis dan membuat laporan

5. Phase D: Technology Architecture

Membangun arsitektur teknologi yang diinginkan, dimulai dari penentuan jenis kandidat teknologi yang diperlukan dengan menggunakan  Technology Portfolio Catalog yang meliputi perangkat lunak dan perangkat keras. Dalam tahapan ini juga mempertimbangkan alternatif-alternatif yang diperlukan dalam pemilihan teknologi.

Beberapa langkah yang diperlukan  untuk membuat arsitektur teknologi yaitu:

Membuat deskripsi dasar dalam format TOGAF

Mempertimbangkan reference model arsitektur yang berbeda, sudut pandang dan tools.

Membuat model arsitektur dari building block

Memilih services portfolio yang diperlukan untuk setiap building block

Mengkonfirmasi bahwa tujuan bisnis tercapai

Menentukan kriteria pemilihan spesifikasi

Melengkapi definisi arsitektur

Melakukan gap analysis antara arsitektur teknologi saat ini dengan arsitektur teknologi target.

6. Phase E: Opportunities and Solutions

Pada tahap ini akan dievaluasi model yang telah dibangun untuk arsitektur saat ini dan tujuan, indentifikasi proyek utama yang akan dilaksanakan untuk mengimplementasikan arsitektur tujuan dan klasifikasikan sebagai pengembangan baru atau penggunaan kembali sistem yang  sudah ada. Pada fase ini juga akan direview gap analysis yang sudah dilaksanakan pada fase D.

Tujuan dari fase ini  adalah :

Mengevaluasi dan memilih pilihan implementasi yang diidentifikasikan dalam pengembangan arsitektur target yang bervariasi

Identifikasi parameter strategik untuk perubahan dan proyek yang akan dilaksanakan dalam pergerakan dari lingkungan saat ini ke tujuan.

Menafsirkan ketergantungan, biaya dan manfaat dari proyek-proyek yang bervariasi.

Menghasilkan sebuah implementasi keseluruhan dan strategi migrasi dan sebuah rencana implementasi detail.

7. Phase F: Migration and Planning

Pada fase ini akan dilakukan analisis resiko dan biaya. Tujuan dari fase ini adalah untuk memilih proyek implementasi yang bervariasi menjadi urutan prioritas. Aktivitas mencakup penafsiran ketergantungan, biaya, manfaat dari proyek migrasi yang bervariasi. Daftar  prioritas proyek akan berjalan untuk membentuk dasar dari perencanaan implementasi detail dan rencana migrasi.

8. Phase G: Implementation Governance

Fase ini mencakup pengawasan terhadap implementasi arsitektur.

Tujuan dari fase ini adalah :

Untuk merumuskan rekomendasi dari tiap-tiap proyek implementasi

Membangun kontrak arsitektur untuk memerintah proses deployment dan implementasi secara keseluruhan

Melaksanakan fungsi pengawasan secara tepat selagi sistem sedang diimplementasikan dan dideploy

Menjamin kecocokan dengan arsitektur yang didefinisikan oleh proyek implementasi dan proyek lainnya.

9. Phase H: Architecture Change Management

Fase ini mencakup penyusunan prosedur-prosedur untuk mengelola perubahan ke arsitektur yang baru.  Pada fase ini akan diuraikan  penggerak perubahan dan bagaimana memanajemen perubahan tersebut, dari pemeliharaan sederhana sampai perancangan kembali arsitektur. ADM menguraikan strategi dan rekomendasi pada tahapan ini. Tujuan dari fase ini adalah untuk menentukan/menetapkan proses manajemen perubahan arsitektur untuk arsitektur  enterprice  yang baru dicapai dengan kelengkapan dari fase G. Proses ini akan secara khusus menyediakan monitoring berkelanjutan  dari hal-hal seperti pengembangan teknologi baru dan perubahan dalam lingkungan bisnis dan menentukan apakah untuk menginisialisasi secara formal siklus evolusi arsitektur yang baru. Fase H juga menyediakan perubahan kepada  framework dan pendirian disiplin pada fase Preliminary.

10. Requirements Management

Menguji proses pengelolaan architecture requirements sepanjang siklus ADM berlangsung.


Sumber : https://andreasdan.com/10-fase-adm-togaf-framework/

Pengertian Enterprise Pengertian Architecture Pengertian Enterprise Architecture

 

Pengertian Enterprise Pengertian Architecture Pengertian Enterprise Architecture

manajemen dan yang lainnya terhadap kejadian-kejadian internal dan eksternal yang penting dan menyediakan suatu dasar informasi untuk pengambilan keputusan yang cerdik.” Dari beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa sistem Informasi mencakup sejumlah komponen manusia, komputer, teknologi informasi dan prosedur kerja, ada sesuatu yang diproses yaitu data menjadi informasi, dan dimaksudkan untuk mencapai suatu sasaran atau tujuan.

2.3 Konsep Dasar Enterprise Architecture

2.3.1 Pengertian Enterprise

Enterprise merupakan kumpulan perusahaan atau organisasi yang memiliki beberapa tujuan tertentu. Menurut para ahli, enterprise dapat didefinisikan sebagi berikut : 1. “Enterprise bukan hanya perusahaan company yang berorientasi kepada profit saja, tetapi juga bisa berupa organisasi non-profit atau nirlaba. Seperti pemerintah, institusi pendidikan ataupun organisasi amal” Surendro, 2009. 2. “Enterprise diartikan sebagai semua kumpulan organisasi yang memiliki sekumpulan tujuan. Enterprise dapat merupakan sebuah agen pemerintahan, sebuah korporasi keseluruhan, divisi korporasi, departemen tunggal atau sebuah rantai organisasi yang berhubungan tetapi berjauhan secara geografis” The Open Group, 2009. Menurut definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa enterprise adalah suatu kumpulan perusahaan atau organisasi yang mempunyai tujuan bisnis untuk mencapai tujuan perusahaanorganisasi.

2.3.2 Pengertian Architecture

Menurut Surendro 2009, “Architecture merupakan suatu perencanaan yang diwujudkan dengan model dan gambar dari bagiankomponen dari sesuatu dengan berbagai sudut pandang”. Enterprise Architecture diperlukan karena merupakan sebagai dasar sistem organisasi yang terdiri dari sekumpulan komponen yang memiliki hubungan satu sama lainnya serta memiliki keterhubungan dengan lingkungan sistem, dan memiliki aturan untuk perancangan dan evaluasi The Open Group, 2009. Architecture pada awalnya hanyalah sebuah prinsip dan istilah yang digunakan untuk membuat bangunan, tetapi didalam konteks teknologi informasi, architecture diperlukan untuk membangun sebuah sistem.

2.3.3 Pengertian Enterprise Architecture

Enterprise Architecture merupakan perancangan proses bisnis dan teknologi disetiap organisasi dan perusahaan, dan kemudian diintegrasikan untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Menurut Surendro 2009, Enterprise Architecture merupakan kumpulan prinsip, metode, dan model yang bersifat masuk akal yang digunakan untuk mendesain dan merealisasikan sebuah struktur organisasi enterprise, struktur organisasi, sistem inform asi dan sistem infrastrukturnya”. Menurut The Open Group 2009 dapat disimpulkan Enterprise Architechture adalah blueprint organisasi yang menentukan bisnis, informasi, dan teknologi yang digunakan agar tercapai misi organisasi. Enterprise Architecture dikonsentrasikan pada infrastruktur yang meliputi hardware, software dan network untuk dapat bekerja secara bersama dengan misi, sasaran, dan tujuan organisasi untuk menjalankan proses bisnis organisasi dengan didukung oleh Teknologi Informasi. Berbagai macam paradigma dan metode dapat digunakan dalam perancangan enterprise architecture diantaranya adalah Zachman, TOGAF, FEAF dan gartner. The Open Group Architecture Framework TOGAF merupakan salah satu acuan kerangka kerja untuk melakukan pengembangan, penerapan, dan pengelolaan arsitektur di bidang Teknologi Informasi pada sebuah organisasiperusahaan. TOGAF berupa panduan tahapan-tahapan dan prinsip- prinsip yang memberikan keleluasaan dalam memilih teknik pemodelan yang digunakan dan merupakan panduan gabungan dari berbagai framework pengembangan arsitektur FEAF, TEAF, DoDAF, dsb. “TOGAF memberikan metode yang detail mengenai bagaimana membangun, mengelola dan mengimplementasikan arsitektur enterprise dan sistem informasi yang disebut dengan Architecture Development Method ADM Surendro, 2009”. Menjelaskan bagaimana menemukan sebuah arsitektur perusahaanorganisasi secara khusus berdasarkan kebutuhan bisnisnya dan proses. Selain itu TOGAF memiliki Resource Base yang memberikan sumber-sumber informasi berupa guidelines, templates, checklists, latar belakang informasi dan detil material pendukung yang membantu arsitek di dalam penggunaan ADM. Resource Base juga menyediakan banyak material referensi. Berbeda dengan TOGAF, framework Zachman adalah framework EA yang menyediakan enam sudut pandang yang dijelaskan dalam sebuah cube. Keenam sudut pandang tersebut adalah planner, owner, designer, builder, subcontractor, builder, dan functioning. Sedangkan FEAF menyediakan sebuah struktur untuk mengembangkan, memelihara dan mengimplementasikan lingkungan operasional di top-level dan mendukung implementasi dari sistem TI, namun FEAF tidak memiliki proses arsitektur yang detil dan tidak ada standarisasinya.


Sabtu, 18 Januari 2020

Haru Biru, Suasana Pemakaman Siswa PSHT Sragen Yang Tewas Terkena Tendangan Perut dari Pelatih. Ratusan Warga Padati Makam, Pengurus Cabang Hingga Ranting Beri Santunan  

Ratusan warga PSHT dan warga setempat memadati pemakaman MA (13) siswa PSHT yang tewas terkena tendangan pelatih saat latihan di Gemolong. Foto/Wardoyo
Ratusan warga PSHT dan warga setempat memadati pemakaman MA (13) siswa PSHT yang tewas terkena tendangan pelatih saat latihan di Gemolong. Foto/Wardoyo
SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Suasana haru mengiringi pemakaman MA (13) siswa perguruan silat persaudaraan setia hati terate (PSHT) asal Saren, Kalijambe, Sragen, Senin (25/11/2019) siang di pemakaman umum desa setempat.
Ratusan warga PSHT berikut pengurus teras di Cabang PSHT hingga ranting, turut mengantar jenasah bocah itu.
Hujan tangis pun mengiringi kepergian bocah siswa kelas 1 MTS yang tewas saat latihan PSHT di wilayah Kaloran, Gemolong, Minggu (24/11/2019) malam tersebut.
“Korban sudah dimakamkan kemarin siang pukul 14.00 WIB. Di pemakaman umum desa setempat,” papar Kapolres Sragen AKBP Yimmy Kurniawan melalui Kapolsek Kalijambe, Iptu Aji Wiyono, Selasa (26/11/2019).
Pemakaman MA dihadiri sejumlah pengurus cabang hingga ranting PSHT. Termasuk rekan-rekan siswa baru yang latihan bersama MA saat kejadian.
Suasana haru dan isak tangis mengiringi pemberangkatan jenasah bocah cilik itu menuju pemakaman.
Ratusan warga PSHT dan warga setempat bahkan turut mengantar sampai pemakaman. Aura duka begitu menyelimuti suasana pemakaman siang itu.
Pemakaman sendiri sempat tertunda lantaran jenasah MA harus diotopsi terlebih dahu di Solo.
Ketua Cabang PSHT Sragen Pusat Madiun, Jumbadi mengatakan pihaknya bersama jajaran pengurus cabang dan ranting serta pelatih di Gemolong, juga turut hadir di rumah duka untuk mengucapkan belasungkawa.
“Kami datang ke rumah duka sekitar pukul 11.00 WIB,” tuturnya.
Dirinya dan jajaran pengurus cabang tiba di kediaman korban saat jenasah masih menunggu proses otopsi di RSUD Moewardi Solo.
Jumbadi menguraikan selain ucapan belasungkawa, pihaknya juga menyampaikan santunan dari pengurus cabang, ranting dan kelompok ranting serta anggota yang latihan.
“Ya sekadar untuk ungkapan duka cita. Kami juga menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya,” urai Jumbadi.
Seperti diberitakan, siswa kelas satu MTS itu ditemukan meregang nyawa saat mengikuti latihan rutin perguruan silat persaudaraan setia hati terate (PSHT).
Insiden tragis itu terjadi tadi malam, Minggu (24/11/2019) pukul 23.00 WIB. Siswa mungil itu meninggal diduga mendapat latihan fisik dan tendangan dari seniornya.
Data yang dihimpun di lapangan, insiden itu terjadi saat korban mengikuti latihan di wilayah Dukuh Ngrendeng RT 22, Desa Kaloran, Kecamatan Gemolong, Sragen.
Menurut sejumlah saksi, malam itu korban mengikuti latihan bersama sekitar 20 peserta PSHT pemula lainnya.
Korban mengikuti latihan mulai pukul 20.00 WIB. Semula, latihan berjalan biasa saja.
Saat korban mengikuti latihan dan sedang posisi kuda-kuda kemudian diberikan tendangan A atau dengan ujung kaki oleh seniornya, FAS (16) asal Donoyudan, Kalijambe satu kali ke arah perut, korban langsung terjengkang dan jatuh ke belakang.
Seketika itu, korban langsung kejang-kejang. Situasi latihan langsung geger. Seketika, FAS langsung berusaha menolong korban dengan cara diurut perutnya.
Namun korban tidak sembuh kemudian korban dibawa oleh beberapa senior lainnya ke bidan di wilayah Saren.
Namun kondisi korban tetap tak sadarkan diri.
Korban kemudian dirujuk ke RS Yakssi Gemolong namun sesampai di RS Yakssi korban dinyatakan sudah meninggal dunia. Wardoyo


Pencak Silat Tak Hanya untuk Bela Diri, tapi juga Membentuk KarakterIlustrasi Pencak Silat

Liputan6.com, Jakarta Pencak silat, sebagai salah satu seni bela diri, merupakan tradisi khas Indonesia yang telah ada dari generasi ke generasi. Tradisi pencak silat berkembang ke seluruh wilayah Indonesia dengan masing-masing keunikan gerakan dan musik yang mengiringinya.
Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) telah memasukkan tradisi pencak silat yang menjadi usulan Indonesia ke dalam Daftar Perwakilan dari Warisan Budaya Tak Benda Kemanusiaan.
Tradisi pencak silat memiliki seluruh elemen yang membentuk warisan budaya tak benda. Tradisi pencak silat terdiri dari tradisi lisan, seni pertunjukan, ritual dan festival, kerajinan tradisional, pengetahuan dan praktik sosial serta kearifan lokal.
“Saya ucapkan terima kasih kepada UNESCO sudah memberikan kepercayaan kepada silat dan tim. Kita yang menjaga harus konsisten melaksanakan kegiatan yang berbasis kepada silat,” ucap Yahya Andi Saputra, Ketua Penelitian dan Pengembangan Lembaga Kebudayaan Betawi, pada Nyaba Kampus di FKIP Uhamka Pasar Rebo, Minggu, 22 Desember 2019.Pencak silat pada dasarnya merupakan suatu sarana untuk saling mengikat tali silaturahmi antara masyarakat di daerah tertentu yang terbagi menjadi dua fungsi. Yakni, sebagai menghibur diri pada perayaan upacara adat setempat dan untuk membekali diri apabila ada bahaya yang akan mengancam.
Tidak hanya sekadar kekuatan pukul atau jalan jurus, pencak silat dapat membentuk karakter seseorang. Dengan pencak silat, masyarakat juga bisa saling bersilaturahmi satu sama lain. perkembangan silat itu sendiri terbagi menjadi dua bagian, yaitu, pencak silat yang berfungsi sebagai hibur diri dan pencak silat sebagai bela diri.
 “Selain bersilaturahmi melalui silat, silat juga mengajarkan hormat kepada orang tua, guru, mendisiplinkan diri, sangat nasionalis dalam membela negara,” ucap Yahya Andi Saputra menjelaskan.
Setiap gerakan silat memiliki makna tersendiri. Yahya Andi memberikan salah satu contohnya adalah jurus silat beksi yang terdiri dari 17 pukulan yang dimaksudkan 17 rakaat.
“Seperti salat yang memadukan gerakan dan doa yang menjadi sebuah kesatuan, sama halnya dengan silat,” tutur Yahya yang pernah menulis buku soal beksi. 
Masyarakat Indonesia kini mendapat tugas besar untuk melestarikan tradisi pencak silat. Banyak hal yang perlu dilakukan untuk melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkan tradisi pencak silat bagi kepentingan pendidikan, penguatan jati diri, dan memperkuat eksistensi Indonesia di dunia internasional.

Nadiyah Fitriyah / PNJ


Minggu, 05 Januari 2020

Soal Perairan Natuna, Mahfud MD: Tak Ada Negosiasi dengan Cina Baca selengkapnya di artikel "Soal Perairan Natuna, Mahfud MD: Tak Ada Negosiasi dengan Cina"

Menko Polhukam Mahfud MD didampingi (kiri ke kanan) Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, KSAL Laksamana TNI Siwi Sukma Adji, Menhan Prabowo Subianto, Kepala Bakamla Laksdya Bakamla A Taufiq R, Menlu Retno Marsudi dan Menkum HAM Yasonna H Laoly menyampaikan konferensi pers terkait kasus Natuna di Kemenko Polhukam, Jakarta, Jumat (3/1/2020). ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/aww.


Mahfud mengatakan perairan Natuna merupakan wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia sehingga tak perlu ada lagi negosiasi bilateral. tirto.id - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD menyatakan pemerintah Indonesia tidak akan bernegosiasi dengan pemerintah Republik Rakyat Cina (RRC) terkait dengan persoalan perairan Natuna. Berdasarkan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS) 1982, kata Mahfud, menyatakan bahwa perairan Natuna merupakan wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia sehingga tidak perlu ada lagi negosiasi bilateral. "Terkait dengan kapal ikan RRC yang dikawal resmi pemerintah Tiongkok di Natuna, prinsipnya begini, Indonesia tidak akan melakukan negosiasi dengan Tiongkok," kata Mahfud, usai menghadiri Peringatan Dies Natalis Ke-57 Universitas Brawijaya di Kota Malang, Jawa Timur, Minggu (5/1/2020) seperti dilansir dari Antara. Sebelumnya, telah terjadi pelanggaran oleh kapal-kapal Cina di wilayah ZEE Indonesia di perairan Natuna, Provinsi Kepulauan Riau. Kapal-kapal tersebut melakukan penangkapan ikan di wilayah ZEE Indonesia. Jika pemerintah Indonesia melakukan negosiasi dengan pemerintah Cina, kata Mahfud, secara tidak langsung akan mengakui bahwa ada sengketa antara Indonesia dan Cina terkait dengan perairan Natuna. Padahal, lanjut Mahfud, perairan Natuna milik Indonesia secara utuh sehingga tidak diperlukan negosiasi atau perundingan. Sementara itu, pemerintah Cina mengklaim secara sepihak perairan Natuna dengan sebutan Nine Dash Line. "Tiongkok tidak punya hak untuk mengklaim daerah tersebut. Jika kita berunding dengan Tiongkok, kita mengakui bahwa perairan itu ada sengketa. Namun, ini tidak ada sengketa, dan mutlak milik Indonesia secara utuh," kata Mahfud. Mahfud menegaskan Indonesia akan mempertahankan kedaulatan negara, termasuk perairan Natuna. Mahfud mengatakan pemerintah akan mengusir dengan segala kemampuan yang ada untuk mempertahankan kedaulatan. Menurut Mahfud pemerintah tengah meningkatkan dan memperkuat patroli untuk menghalau kapal-kapal penangkap ikan asal Cina, yang beroperasi secara ilegal di perairan Natuna. "Patroli akan diperkuat, penguatan kapal-kapal kita, yang sekarang ada di wilayah lain, akan dikerahkan ke sana untuk menghalau," kata Mahfud. Mahfud menjelaskan, peningkatan dan penguatan patroli di kawasan perairan Natuna tersebut, bukan berarti Indonesia melakukan perang dengan pemerintah Cina. Akan tetapi, pemerintah Indonesia menghalau kapal asing, untuk menjaga wilayah perairan Indonesia. "Kita tidak berperang, akan tetapi menghalau untuk menjaga daerah kita sendiri," pungkas Mahfud.

https://tirto.id/q/politik-bpt